Menengok Cara Jepang Merobohkan Gedung Tinggi dengan Cara Ramah Lingkungan

2016-06-02 21:59:40
Menengok Cara Jepang Merobohkan Gedung Tinggi dengan Cara Ramah Lingkungan

Jakarta - Gedung kosong di Kawasan CBD Bintaro Sektor VII, Tangerang Selatan, roboh karena sudah tua dan terjadi kesalahan konstruksi sejak lama. Gedung itu disebut tidak lolos uji kelayakan lantaran ada kesalahan kontur bangunan.

Polisi menyebut gedung kosong di Bintaro, Tangerang Selatan, yang roboh dibangun pada tahun 1994-1995 oleh Panin Bank. Kini, rangka gedung tersebut dibeli oleh seorang pengusaha besi tua.

Setelah rangka bangunan dibeli, sejak tanggal 1 Mei 2016 lalu ada beberapa pekerja yang bertugas 'menguliti' gedung tersebut. Pengusaha besi tua asal Madura itu memang berencana untuk merobohkan gedung itu secara keseluruhan.

Namun pada Kamis, 2 Juni 2016, bangunan tersebut roboh sebagian. Beruntung, tidak ada korban dalam kejadian tersebut.

Tentang merobohkan sebuah gedung, lazimnya pekerja konstruksi menggunakan bahan peledak. Namun cara tersebut beresiko tinggi serta tidak ramah lingkungan.

Salah satu cara yang lebih halus dan ramah lingkungan yaitu seperti yang diterapkan pada The Grand Prince Hotel Akasaka di Tokyo, Jepang. Gedung hotel yang awalnya setinggi 40 lantai itu berkurang setengahnya dalam waktu setahun.

Berita tentang hal tersebut pernah dimuat detikcom pada Kamis, 28 Februari 2013, seperti dilansir News Australia. Manager Taisei Ecological Reproduction System (TECOREP) Hideki Ichihara, mengatakan penghancuran gedung itu menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

"Dalam penghancuran ini, gedungnya akan menyusut dan kemudian menghilang tanpa Anda sadari," tutur Ichihara.

Gedung hotel itu dibangun pada tahun 1980-an dengan tinggi 140 meter sebagai simbol glamor masyarakat Jepang yang saat itu kaya raya. Namun mulai tahun lalu, bangunan gedung tersebut menyusut 2 lantai atau 6,4 meter tiap 10 hari. TECOREP mengembangkan cara baru menghancurkan sebuah gedung tanpa perlu suara bising dan sampah material yang berlebihan. Tak hanya itu, TECOREP juga mendaur ulang energi yang ada pada bangunan-bangunan tersebut.

Caranya, para pekerja mengaplikasikan balok baja di lantai teratas. Mereka menggunakan 15 jack hidrolik dan beberapa teknologi lain sehingga bisa mengenyahkan 1 lantai sekaligus dalam 1 waktu. Menggunakan prinsip katrol, sampah materialnya didaur ulang menjadi energi listrik untuk penerangan dan sistem ventilasi.

"Dengan adanya baja di bagian atas gedung, kami bisa mengurangi bising dan debu secara signifikan. Polusi debu berkurang hingga 90%, sehingga dampak buruk terhadap lingkungan sangat kecil," tambah Ichihara. 
(dhn/dhn)

Sumber : Dhany Irawan - detikNews

KOMENTAR

GMT INSTITUTE TRAINING SCHEDULE

ARTICLE UPDATE